Saat Anda menerima dokumen desain dari interior desainer, Anda tidak hanya mendapatkan gambar 3D yang cantik, tetapi juga setumpuk "Gambar Kerja" atau Shop Drawing hitam putih. Dokumen inilah yang sebenarnya menjadi patokan tukang di lapangan. Berikut cara mudah memahaminya.
1. Denah (Floor Plan)
Bayangkan Anda melihat rumah Anda dari atas langit dengan atap yang dibuka. Denah menunjukkan tata letak dinding, pintu, dan penempatan furnitur.
Yang perlu dicek: Pastikan jarak sirkulasi antar furnitur (misal: jarak antara meja makan dan island dapur) minimal 80-90 cm agar Anda nyaman berjalan.
2. Tampak (Elevation)
Ini adalah gambar 2D saat Anda berdiri lurus menghadap sebuah dinding. Elevation sangat penting untuk melihat letak stop kontak, tinggi laci, dan pembagian pintu lemari.
Yang perlu dicek: Perhatikan garis putus-putus. Garis putus-putus yang membentuk huruf V atau ^ menunjukkan arah bukaan pintu kabinet (engsel).
3. Potongan (Section)
Bayangkan sebuah lemari dibelah dua dengan gergaji, lalu Anda melihat bagian dalamnya. Gambar ini menunjukkan kerangka kayu, jarak antar ambalan (rak) di dalam lemari, dan jalur kabel lampu LED.
Yang perlu dicek: Ketinggian rak. Pastikan ketinggian rak sesuai dengan barang yang ingin Anda simpan (misal: rak buku butuh jarak lebih tinggi daripada rak sepatu).
Mengapa Anda Harus Peduli?
Gambar 3D (Render) tidak memiliki kekuatan hukum, tetapi Gambar Kerja (Blueprint) yang Anda tanda tangani (Approved for Construction) adalah kontrak fisik. Jika hasil lapangan berbeda dengan Gambar Kerja, Anda berhak meminta kontraktor untuk membongkarnya tanpa biaya tambahan.


